Catatan Manasuka Online

Senin, 14 Agustus 2017

Industri Energi Surya Dibutuhkan di Masa Depan

Energi surya di Indonesia cocok untuk dikembangkan dan dapat menjadi energi penting di masa yang akan datang. Posisi geografis Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa, menjadikan negeri ini memiliki potensi sumber energi surya yang sangat besar. Perlu stimulus khusus agar pengembangan energi padat investasi ini berkembang sebagaimana di negara lain.

Energi Surya Photovoltaic(PV) merupakan sumber pembangkit energi listrik yang layak digarap serius. Apalagi di Indonesia yang mempunyai sumber energi surya melimpah karena letak geografisnya. Karena itu energi ini perlu diperhitungkan sebagai bagian dari bauran energi nasional di tanah air.

Pemanfaatan energi surya harus direalisasikan. Selain merupakan sumber energi yang melimpah, akan lebih banyak menyerap tenaga kerja profesional maupun pekerja industri komponen pendukung energi surya.

Teknologi Energi Surya (Matahari)


Energi surya mempunyai supply chain pengadaan energi yang kompleks mulai dari hulu (pasir kuarsa) ke hilir (produksi listrik). Rantai tersebut mulai dari Polysilicon, Solar Wafer, Solar Cell, Solar Module, Solar System hingga menjadi pembangkit listrik.

Polysilicon adalah komponen pembentuk solar wafer. Polysilicon berasal dari pasir kuarsa yang melewati proses kimiawi menjadi produk yang dapat dijadikan bahan baku solar wafer. Selain untuk industri solar cell, Polysilicon digunakan dalam industri semi-konduktor. Hingga tahun 1995 ketika kebutuhan polysilicon untuk solar cell masih rendah kapasitas produksi polysilicon tersedia cukup untuk melayani permintaan industri semikonduktor.

Solar wafer merupakan komponen pembentuk solar cell. Lembaran-lembaran wafer akan dicek dan dikelompokkan untuk proses lanjutan menjadi solar cell. Sampai dengan analisis ini dibuat, dengan perkembangan teknologi pengolahan saat ini daya yang mampu dihasilkan oleh sebuah cell telah mencapai 4,14 Wp (watt peak), dengan efisiensi sel sekitar 16.5 ~ 17.0%

Solar Modul adalah rangkaian solar cell yang dirangkai satu sama lain kemudian dilaminasi (diberi lapisan kaca). Jika kita melewati jalan tol Jakarta-Bandung atau Jakarta-Bandara Soekarno Hatta, kita akan melihat keindahan solar modul yang terpasang diatas lampu-lampu penerangan jalan, yang disusun dengan rangkaian baterai pendukung untuk dapat menerangi jalan pada malam hari.

Pembuatan modul solar cell memerlukan beberapa jenis mesin produksi dan instrumentasi yang spesifik, tetapi dibandingkan dengan teknologi pabrikasi solar cell (mesin-mesin dan keahlian yang dibutuhkan untuk mengoperasikannya) teknologi pembuatan solar modul memerlukan level teknologi yang relatif lebih rendah.

Di Indonesia saat ini kurang lebih ada 5 pabrik solar modul. Rantai terakhir dalam seluruh rantaian bisnis energi surya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau yang biasa dikenal dengan istilah Independent Power Producer (IPP).

Indonesia adalah salah satu Negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa, hal tersebut menyebabkan tingkat radiasi (irradiation level) matahari cukup tinggi dengan nilai sebesar 4.25Kwh/square meter atau dengan tingkat radiasi 4.25 jam per hari.

Nilai tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini menandakan bahwa energi surya di Indonesia cocok untuk dikembangkan dan dapat menjadi energi penting di masa yang akan datang.


Industri Energi Surya - Peluang Industri

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © SEO Gaul